Tag: maksiat

Sahabat SM, seorang ulama salaf melihat seseorang mabuk di pinggir jalan. Kemudian ulama tersebut memegang tangan orang mabuk itu dan memasukkan ke dalam rumahnya. Orang mabuk tersebut dibiarkan tidur di rumahnya sampai pagi agar kembali sadar.

Di pagi hari orang mabuk itu sadar. Lalu ia ingat bahwa semalam dia mabuk kemudian dia dibawa seseorang ke rumahnya dan ditutup aibnya.

Orang mabuk tadi pun bertanya kepada sang alim, “Kenapa Anda berbuat demikian?”

Berkata Sang Alim, “Saya takut manusia melihatmu lalu kemudian menghinamu. Aku ingin menutup aibmu, Allah pun menutup aibmu.” Orang itu lalu menangis dan bertaubat kepada Allah ta’ala.

Suatu ketika seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengadukan bahwa pegawainya ada yang berzina, “Wahai Rasulullah, Si Fulan telah berzina.”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Wahai Huzal, kenapa Anda tidak menutupi aibnya dengan pakaianmu?”

Jika kamu nasehati dia agar taubat dan kamu tutupi aibnya selesai sudah masalahnya. Orang berbuat maksiat kenapa kamu hendak melecehkannya? Dakwahi dia agar taubat. Dakwahi dia agar kembali ke jalan Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فيِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

“Siapa yang menutup aib seorang muslim niscaya Allah akan menutup aibnya di dunia dan kelak di akhirat.” (HR. Muslim)

Semoga Allah menutup aib-aib kita dan kaum muslimin semuanya serta mengampuni kesalahan kita.

Syaikh Nabil Al-Awadi

Raih pahala besar dengan menyebarkan kiriman ini. Ajak serta kerabat dan rekan untuk bergabung dalam layanan SM.

Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast(SM)
Registrasi Ketik: “Daftar” kirim ke WA SM Center: +62 858 2634 8545
Join Telegram t.me/shirotulmustaqim
Instagram.com/shirotulmustaqimid
www.shirotulmustaqim.com

Read Full Article

Sahabat SM, maksiat adalah sebab kehinaan seorang hamba di sisi Rabb-nya.

Jika seseorang telah rendah dalam penilaian Allah ta’ala, maka tidak ada seorang pun yang menghormatinya.

Allah ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ

“Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya.” (QS. Al-Hajj: 18)

Demikian juga jika seseorang telah hina di sisi Allah ta’ala, maka terputuslah sebab-sebab kebaikan dan terbukalah sebab-sebab keburukan.

Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan kita untuk meninggalkan maksiat karena dampaknya yang buruk, baik terhadap individu ataupun masyarakat.

Dari Muadz bin Jabal radliallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan kepadaku dengan sepuluh petunjuk, lalu beliau menyebutkan di antaranya,

“Jauhilah maksiat, karena maksiat menjadi penyebab datangnya murka Allah azza wa jalla.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad 5/238, Hasan Lighairihi)

Sadarilah bahwa kondisi-kondisi menyedihkan yang kita alami saat ini, sebab sesungguhnya adalah jauhnya kita dari Allah ta’ala. (Taubat Jalan Menuju Surga, Syaikh Abdul Hadi bin Hasan Wahby)

Bogor, 13 Januari 2018

Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast
SM Center: +62 815 8559 4149
PIN BB: D78DCDDC
Telegram t.me/shirotulmustaqim
www.shirotulmustaqim.com

Read Full Article

Sahabat SM, ketahuilah maksiat dapat melenyapkan nikmat. Allah ta’ala tidak menghilangkan kenikmatan yang terdapat pada seseorang sehingga orang itu sendirilah yang menghilangkannya.

Yaitu dengan merubah ketaatan menjadi kemaksiatan, merubah syukur menjadi kufur, merubah perkara yang mendatangkan keridhoan menjadi perkara yang mendatangkan kemurkaan.

Maksiat Dapat Melenyapkan Nikmat, Syukur Dapat Mengusir Bencana

Itulah balasan yang setimpal atas tindakannya. Sesungguhnya Allah ta’ala tidak mendzalimi hamba-Nya.

إِذَا كُنْتَ فِي نِعْمَةٍ فَارْعَهَا
فَإِنَّ المعَاصِي تُزِيْلُ النِّعَمِ

“Jika Anda mendapat nikmat, peliharalah. Sesungguhnya maksiat dapat melenyapkan nikmat.”

وَحَافِظْ عَلَيْهَا بِشُكْرِ الْإِلَهِ
فَشُكْرُ الْإِلَهِ يُزِيْلُ النِّقَمِ

“Jagalah dia dengan besyukur kepada Allah, karena bersyukur kepada Allah dapat mengusir bencana.”

Allah ta’ala berfirman,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۙ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 53)

At-taubah Thoriqu ila al-Jannah, Abdul Hadi bin Hasan Wahby

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast
Bogor, 30 November 2017

 

Read Full Article