Tag: ibu

Masa kecilku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu konde setiap Kartinian
Terpaksa kukenakan ketika karnaval
Mengundang senyum penonton sepanjang jalan
Juga jepretan fotografer amatiran

Tambah usia aku belajar Islam
Konde tak pernah lagi kukenakan
Yang kutahu hanyalah khimar
Gerainya menutupi rambutku yang suci
Sesuci niat mematuhi perintah Ilahi

Lihatlah muslimah Indonesia
Penglihatanmu akan semakin terpesona
Supaya kau ingat perintah-Nya
Inilah penampilan ibu bertakwa
Di bumi Allah yang penuh berkah

Kecantikan asli wanita yang terjaga
Tak pandang suku dan bangsa
Tetap cantik, berbudi, kreatif dan sehat
Berakhlak, mulia, dan bermartabat
Terjaga dari pandangan hina

Sejak aku paham syariat Islam
Kumatikan kidung-kidung tanpa makna
Kugantikan syahdu lantunan Al-Qur’an
Kurindukan merdu suara azan
Memanggil sujud merendahkan kepongahan

Menyadari hidup hamba yang fana
Membasahi bibir dengan doa-doa
Lelehan demi lelehan air mata sesal
Menggores ampunan mengetuk keridhoan
Menenun harapan ke jalan surga

Tanggalkan pandangan usangmu
Tentang ibu kelam di masa lalu
Supaya kau dapat pencerahan
Tentang ibu masa kini dan masa depan
Ibu sejati yang mulia dalam pelukan syariat

Bogor, 2 April 2018
Asri Supatmiati

Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast
Registrasi Ketik: “Daftar” kirim ke WA
SM Center: +62 815 8559 4149
PIN BB: D78DCDDC
Telegram t.me/shirotulmustaqim
www.shirotulmustaqim.com

 

Read Full Article

Amamah bin Harits berpesan kepada anak perempuannya tatkala membawanya kepada calon suaminya (saat pernikahan),

“Wahai anak perempuanku, bahwasanya jika wasiat ditinggalkan karena suatu keistimewaan atau keturunan maka aku menjauh darimu. Akan tetapi wasiat merupakan pengingat bagi orang yang mulia dan bekal bagi orang yang berakal.

Wahai anak perempuanku, jika seorang perempuan merasa cukup terhadap suami lantaran kekayaan kedua orang tuanya dan hajat kedua orang tua kepadanya, maka aku adalah orang yang paling merasa cukup dari semua itu.

Akan tetapi perempuan diciptakan untuk laki-laki dan laki-lakai diciptakan untuk perempuan. Oleh karena itu, wahai anak perempuanku, jagalah sepuluh perkara ini.

*Pertama dan kedua*:
Perlakuan dengan sifat qana’ah dan mu’asyarah (hubungan/pergaulan) melalui perhatian yang baik dan ta’at, karena pada qan’aah terdapat kebahagiaan qalbu, dan pada ketaatan terdapat keridhaan Tuhan.

*Ketiga dan keempat*:
Buatlah janji dihadapannya dan beritrospeksilah dihadapannya. Jangan sampai ia memandang jelek dirimu, dan jangan sampai ia mencium darimu kecuali wewangian.

*Kelima dan keenam*:
Perhatikanlah waktu makan dan tenangkanlah ia tatkala tidur, karena panas kelaparan sangat menjengkelkan dan gangguan tidur menjengkelkan.

*Ketujuh dan kedelapan*:
Jagalah harta dan keluarganya. Dikarenakan kekuasaan dalam harta artinya pengaturan keuangan yang bagus, dan kekuasaan dalam keluarga artinya perlakuan yang baik.

*Kesembilan dan kesepuluh*:
Jangan engkau sebarluaskan rahasianya, serta jangan engkau langgar peraturannya. Jika engkau menyebarluaskan rahasianya berarti engkau tidak menjaga kehormatannya. Jika engkau melanggar perintahnya berarti engkau merobek dadanya.

Ibnu Jauzi, Ahkamu An-Nisa hal 80

Read Full Article