Kategori: Artikel

Hati-hati Hasad Membuatmu Menderita.

Sahabat SM, hasad adalah sebuah penyakit yang menyerang hati dan meracuninya. Ia menjadi sebab rusak dan hancurnya hati. Siapa yang terserang penyakit ini, hatinya senantiasa gelisah dan dada pun menjadi sesak.

Setiap kali saudaranya mendapatkan kenikmatan, dadanya menjadi sesak dan sempit. Ia senantiasa mengangan-angankan musnahnya kenikmatan tersebut dari tangan saudaranya.

Sehingga orang yang terjangkit penyakit ini hidupnya akan menderita. Ia terpenjara dengan penjara yang ia buat sendiri.

Oleh karena itu, jika ingin hidupmu bahagia maka jauhi dan lindungi diri Anda dari penyakit hasad ini.

Allah ta’ala berfirman,

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ

“Dan janganlah kalian iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kalian lebih banyak dari sebahagian yang lain.” (QS. An-Nisa’: 32)

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast

Read Full Article

Sahabat SM, ketahuilah jika Allah membenci seseorang, maka Jibril dan semua penduduk langit pun akan membencinya.

Tak hanya sampai disitu. Bahkan kemudian penduduk bumi pun akan ikut serta membencinya.

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَيَقُولُ إِنِّي أُبْغِضُ فُلَانًا فَأَبْغِضْهُ قَالَ فَيُبْغِضُهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ فُلَانًا فَأَبْغِضُوهُ قَالَ فَيُبْغِضُونَهُ ثُمَّ تُوضَعُ لَهُ الْبَغْضَاءُ فِي الْأَرْضِ))

“Jika Allah membenci seorang hamba, maka Allah akan memanggil Jibril. Kemudian Allah berfirman, “Aku membenci si fulan, maka bencilah dia’. Maka Jibril pun membencinya. Kemudian Jibril mengumumkan kepada semua penduduk langit bahwa Allah membenci si fulan, maka mereka semua membencinya. Kemudian kebencian itupun diletakan pada penduduk bumi.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, janganlah engkau mengundang kebencian Allah ta’ala atasmu. Jangan terlebih hanya sekedar untuk mencari simpati atau keridhoan manusia semata.

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast

Read Full Article

Sahabat SM, para ulama salaf (terdahulu) begitu antusias dalam menjalankan serta menjaga shalat berjama’ah. Dan mereka akan bersedih ketika dirinya tertinggal shalat berjama’ah.

Dikisahkan oleh syaikh Asy-Sya’roni Asy-Syafii rahimahullah, dahulu orang-orang salaf menganggap bahwa meninggalkan shalat berjama’ah sebagai musibah.

Dikisahkan pula, dahulu ada seseorang yang sedang sibuk mengurus kebun kurmanya. Kemudian dia pulang ke rumahnya (karena waktu shalat telah tiba). Dan ternyata dia menjumpai orang-orang sudah melaksanakan shalat ashar berjama’ah. Berkatalah dia, “Saya tertinggal dari shalat berjama’ah. Saksikanlah sesungguhnya kebun kurmaku akan aku sedekahkan untuk orang-orang miskin.”

Ubaidillah bin Umar Al-Qowariri rahimahullah pernah tertinggal dari shalat berjama’ah karena sibuk menemui tamu. Waktu itu (ketika selesai menemui tamu), beliau keluar rumah untuk shalat berjama’ah di masjid. Ternyata di semua masjid sudah dilakukan shalat berjama’ah bahkan pintunya sudah ditutup. Akhirnya beliau pulang dan berkata, “Aku tahu ada hadis yang menyebutkan bahwa shalat berjama’ah pahalanya 27 derajat dibandingkan shalat sendiri.”

Akhirnya beliau shalat isya sendirian 27 kali. Kemudian beliau tidur dan ternyata bermimpi sedang menunggangi kuda dan di depannya ada rombongan kaum yang juga menunggangi kuda. Dalam perjalanannya beliau tidak bisa mendahului rombongan tersebut. Tiba-tiba salah seorang dari mereka menengok dan berkata, “Kudamu kelelahan, tidak bisa mengejar kami.” Beliau menjawab, “Tidak wahai saudaraku”. Orang tadi berkata lagi, “Karena kami shalat berjama’ah sedangkan kamu shalat sendirian”. Akhirnya beliau terbangun dari tidurnya dalam keadaan sangat bersedih. (Diringkas Dari Kitab I’anatuth)

Kiriman dari Ust. Abul Fata Miftah, Lc

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast

Read Full Article

“Jika dunia kita sudah menjulang ke atas, maka hujamkanlah iman ke dalam hati. Dengannya kita akan selamat dan kokoh.” (Ust. Sholahuddin)

Sahabat SM, sesungguhnya memantapkan iman dalam hati dan menguatkan takwa merupakan kewajiban yang harus kita lakukan dalam setiap keadaan, baik dunia kita sudah tinggi maupaun ketika masih rendah sekalipun.

Akan tetapi berapa banyak orang bisa lebih bersabar ketika dia dalam keadaan susah dunianya, sehingga ia bisa lebih dekat dengan Rabb-Nya. Sebaliknya berapa banyak orang yang lapang dunianya menjadi terlalaikan hingga kemudian jauh dari Rabb-Nya.

Dunia Kita Bisa Menjadi Kebinasaan Kita

Inilah yang ditakutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلَكِنِّى أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan menimpa kalian. Namun, aku takut bahwa dunia akan dibentangkan untuk kalian, sebagaimana dunia telah dibentangkan untuk umat sebelum kalian. Akhirnya, kalian berlomba-lomba mendapatkannya, sebagaimana yang dilakukan orang-orang terdahulu. Selanjutnya, dunia membinasakan kalian, sebagaimana dahulu dunia telah membinasakan umat sebelum kalian.” (HR. Bukhari, no. 4015)

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast

Read Full Article

Sahabat SM, tidak ada manusia di dunia ini yang tidak berdosa kecuali para Nabi dan Rasul. Oleh karena itu, sangat mungkin berpadu dalam diri seseorang kemaksiatan dan ketaatan.

Namun yang harus diketahui, jika seseorang merasa buruk dengan kemaksiatan yang telah dia lakukan. Kemudian dia menutupi keburukan tersebut dengan melakukan berbagai amal shalih, maka sesungguhnya itulah tanda keimanan.

Dia merasa buruk dan merasa berdosa. Ia pun berusaha menambal keburukannya dengan amal-amal shalih yang ia lakukan setelah itu. Mudah-mudahan dengannya Allah ampuni dosanya.

Kemaksiatan dan Ketaatan, Yang Kedua dapat Menghapus yang Pertama

Allah ta’ala berfirman,

وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 102)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةُ تَمْحُهَا

“Dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik tersebut akan menghapus perbuatan buruknya.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih)

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast

Read Full Article

Sahabat SM, sudah seharusnya bagi kita sebagai seorang yang beriman untuk taat kepada Allah dan RasulNya, mendengar dan patuh terhadap ketetapannya, mengagungkan Al-Qur’an dan as-Sunnah.

Alloh ta’ala berfiman,

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS. An Nur [24]: 51-52)

Jangan Abaikan Al-Qur’an dan As-Sunnah

Oleh karena itu, tidak sepantasnya bagi kita untuk mengabaikan dan mengesampingkan keduanya dengan mendahulukan ucapan seseorang. Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujaraat [49]: 1)

Dan hendaklah kita sebagai seorang mukmin ridho, menerima dan tidak keberatan dalam hati kita terhadap ketetapan Allah dan RasulNya. Allah ta’ala berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 65)

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast

Read Full Article

Sahabat SM, shalat subuh memiliki keutamaan yang besar. Siapa yang menyempurnakan shalat subuhnya diantaranya dengan shalat berjama’ah, maka dia berada dalam jaminan dan perlindungan Allah ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللَّهِ فَلَا يَطْلُبَنَّكُمْ اللَّهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَإِنَّهُ مَنْ يَطْلُبْهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ يُدْرِكْهُ ثُمَّ يَكُبَّهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ

“Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim no. 163)

Oleh karena itu, siapa saja yang engkau ketahui bahwa dia melaksanan shalat subuh berjamaah, maka jangan berani-beraninya engkau memusuhi, mendzolimi, dan menyakitinya. Karena ia berada dalam perlindungan Allah ta’ala. Siapa yang melanggar perlindungan Allah ta’ala maka dia berhadapan dengan Allah ta’ala.

Jangan Mendzolimi Seseorang yang Shalat Subuh

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata,

في هذا دليل على أنه يجب احترام المسلمين الذي صدَّقوا إسلامهم بصلاة الفجر ؛ لأن صلاة الفجر لا يصليها إلا مؤمن ، وأنه لا يجوز لأحد أن يعتدي عليه

“Dari hadits ini terdapat petunjuk atas wajibnya menghormati orang-orang muslim yang jujur keislamannya yaitu mereka yang melaksanakan shalat subuh. Karena tidaklah seseorang mendirikan shalat subuh kecuali dia adalah seorang mukmin. Dan sesungguhnya tidak boleh bagi siapa pun untuk memusuhi atau mendzoliminya.” (Syarah Riyadhus Shalihin 1/591)

Jadi, jika engkau menghendaki jaminan dan perlindungan dari Allah ta’ala, maka perhatikanlah shalat subuhmu.

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast

Read Full Article

Sahabat SM, duduk setelah melaksanakan shalat fardhu termasuk waktu-waktu yang agung dimana dengannya turun rahmat Allah ta’ala bagi seorang hamba. Inilah satu duduk yang berharga.

Maka ketika engkau selesai shalat, janganlah engkau terburu-buru untuk segera bangkit. Akan tetapi tetaplah duduk, bacalah istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir, berdzikir kepada Allah ta’ala.

Ketahuilah sesungguhnya para malaikat akan memintakan ampun dan rahmat selama kita tidak beranjak dan masih berada di tempat shalat kita.

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمَلاَئِكَةُ تُصَلِّى عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مُصَلاَّهُ الَّذِى صَلَّى فِيهِ ، مَا لَمْ يُحْدِثْ ، تَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ

Para malaikat akan mendoakan salah seorang di antara kalian selama ia tetap berada di tempat shalatnya, selama ia tidak berhadats. Malaikat mengucapkan, ‘Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia.'” (HR. Bukhari, no. 445)

Jika Engkau Banyak Dosa Lazimkan Duduk yang Berharga Ini

Ibnu Baththal rahimahullah berkata,

من كان كثير الذنوب وأراد أن يحطها الله عنه بغير تعب ، فليغتنم ملازمة مصلاه بعد الصلاة ليستكثر من دعاء الملائكة واستغفارهم له

“Barangsiapa yang banyak dosanya dan menghendaki agar Allah ta’ala menghapus darinya dosa-dosa tersebut tanpa perlu berlelah-lelah, maka hendaknya dia melazimkan untuk tetap duduk ditempatnya setelah dia selesai shalat sehingga memperbanyak doa dan permohonan ampun dari para malaikat untuknya.” (Syarh Ibnu Baththal terhadap Shahih al Bukhari: 3/114)

Shirotul Msutaqim Whatsapp Broadcast

Read Full Article

Sahabat SM, seringkali kita merasakan sempitnya pintu rezeki sehingga kita pun berusaha dengan susah payah agar pintu rezeki itu pun terbuka lebar. Akan tetapi, terkadang pintu rezeki begitu luas dan mudah sehingga kita pun bersegera untuk meraihnya dan tidak menunda-nundanya.

Pintu Ketaatan Seperti Pintu Rezeki

Dan ketahuilah sahabat, bahwa ketaatan pun tidak jauh berbeda dengan rezeki. Dan memang ketaatan adalah rezeki dari Allah ta’ala bagi hamba yang dapat menunaikannya.

Imam Malik rahimahullah berkata,

إن الله جعل أبواب الطاعات كأبواب الرزق فيفتح الله على هذا ما لا يفتح على هذا، فما أنت عليه خير وما أنا عليه خير

“Sesungguhnya Allah menjadikan pintu ketaatan seperti pintu rezeki. Allah membukakan untuk seseorang satu pintu yang Allah tidak bukakan untuk yang lainnya. Bagimu ada (pintu) kebaikan (yang Allah bukakan untukmu) dan bagiku ada (pintu) kebaikan yang Allah bukakan untukku.” (Syaikh Muhammad Khalifah at-Tamimi, goo.gl/ZFjuyJ)

Oleh karena itu, ketika pintu-pintu kebaikan dan ketaatan terbuka lebar dihadapan kita, maka segeralah raih. Jangan sampai kita menunda-nundanya yang pada akhirnya bisa jadi pintu ketaatan tertutup untuk kita.

Dan hendaknya engkau bergembira dan bersuka cita tatkala pintu ketaatan terbuka untukmu. Dan engkau pun bisa meraihnya karena sesungguhnya ia adalah rezeki yang agung.

Shirotul Msutaqim Whatsapp Broadcast

Read Full Article

Sahabat SM, ketahuilah bahwa ada satu langkah kaki yang memiliki nilai yang sangat berharga. Langkah kaki siapakah itu?

Itu adalah langkah kaki seseorang yang berjalan menuju masjid dalam rangka menghadiri shalat berjama’ah. Siapa yang melangkahkan kakinya menuju masjid maka setiap langkahnya dihitung sebagai sedekah atasnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَكُلُّ خَطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ

“Setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah.” (HR. Muslim, no. 1009)

Satu Langkah Menghapus Dosa dan Meninggikan Derajat

Selain itu, setiap langkah kaki yang diayunkan menuju masjid juga dapat menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِىَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu dia berjalan menuju salah satu dari rumah Allah (yaitu masjid) untuk menunaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan, maka salah satu langkah kakinya akan menghapuskan dosa dan langkah kaki lainnya akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim, no. 666)

Oleh karena itu sahabat, semangatlah dalam memenuhi panggilan adzan, melangkahkan kaki menuju masjid dalam rangka shalat berjama’ah terkhusus bagi laki-laki. Rugilah bagi siapa saja yang tidak tergiur dengan keutamaan yang besar ini.

Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast

Read Full Article