Kategori: Artikel

Sahabat SM, sudah akrab ditelinga kita tentang ungkapan yang berbunyi “Diam itu Emas”. Akan tetapi, kita pun sering mendengar bahwa tak selamanya diam itu emas. Jadi sebenarnya mana yang lebih baik, diam atau berbicara? Dalam hal ini kita harus mengetahui prinsip dalam berbicara.

Terkait hal ini, kita bisa melihat pandangan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Beliau berkata,

فالتكلم بالخير خير من السكوت عنه، والصمت عن الشر خير من التكلم به.

“Berbicara yang baik, lebih baik dibanding diam. Dan diam, tidak berbicara yang buruk, lebih baik dibanding mengucapkannya.” (Majmu’ul Fatawa, jilid 11 hlm. 200)

Bicara Baik atau Diam

Kaidah yang beliau kemukakan ini merupakan realisasi dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

من كان يؤمن باللّه واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. (Muttafaqun ‘alaih)

Inilah prinsip yang bisa kita pegang sebagai seorang yang beriman untuk menentukan mana yang lebih baik kita lakukan, berbicara atau diam saja.

Baca tulisan terkait di telegram https://t.me/shirotulmustaqim/76

Read Full Article

Sahabat SM, hidup di zaman sekarang ini kalau dibilang zaman susah tapi kenyataannya semakin banyak mobil di jalanan. Kalau dibilang zaman enak, tapi pada banyak yang ngeluh susah. Bisa jadi mungkin inilah yang dinamakan hilangnya keberkahan negeri ketika kemaksiatan begitu menyebar di suatu negeri.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “…Terhambatnya pengabulan doa, hati yang keras, tercabutnya keberkahan dalam urusan rezeki dan umur,…itu semua terlahir dari kemaksiatan.” (Al Fawa’id, hal. 35-36)

Keimanan dan Ketakwaan Membuka Pintu Keberkahan Negeri

Sungguh kebaikan pada suatu negeri akan didapatkan ketika pintu keberkahan dari Allah terbuka. Dan tidaklah pintu keberkahan itu dibuka melainkan dengan syarat keimanan dan ketakwaan penduduknya.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)

Oleh karena itu, marilah jauhi kemaksiatan. Pupuk keimanan dan ketakwaan kita, keluarga kita, dan masyarakat kita.

Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast (SM)

Read Full Article

Apa yang Menyebabkan Engkau Masuk Neraka?

Sahabat SM, Allah ta’ala telah menjelaskan kepada kita betapa ngerinya neraka. Salah satunya adalah apa yang Allah firmankan di dalam Al-Qurán Surat Al-Muddatsir ayat yang ke 26-30 ketika menjelaskan tentang Saqar (neraka).

Allah ta’ala berfirman,

وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ

“Tahukah kamu apakah neraka Saqar itu? Engkau tidak akan bertahan hidup di neraka Saqar, dan penghuninya tidak akan dibiarkan lepas tanpa siksa. Neraka Saqar menjadikan kulit penghuninya berganti baru setiap kali hangus terbakar.”

Read Full Article

Sahabat SM, ketahuilah bahwa kelak semua kita akan menyesal. Kenapa kita menyesal dan apa yang kita sesali? Yang kita sesali adalah hari-hari yang kita lalui, sedang kita terlewat untuk beramal shalih.

Allah ta’ala berfirman,

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ, لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku(ke dunia), agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan’.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

Jangan Sampai Menyesal

Setiap saat mungkin kesempatan-kesempatan untuk beramal shaleh datang silih berganti di depan kita. Tetapi berapa banyak kesempatan yang kita tunda dan pada akhirnya terlewatkan begitu saja tanpa bisa kita raih. Kesempatan-kesempatan seperti itulah yang nanti kita akan sesali di akhirat kelak.

Oleh karena itu, manfaatkanlah waktu-waktu ini untuk meraup amal sholeh sebelum datang masa di mana tidak ada lagi kesempatan untuk beramal dan yang ada hanyalah perhitungan amal (hisab).

Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu pernah mengatakan,

إِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابٌ وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلٌ

“Sesungguhnya hari ini (di dunia) adalah tempat beramal tanpa ada hisab, sedangkan besok (di akhirat) adalah tempat hisab (perhitungan) tanpa ada kesempatan untuk beramal.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

Shirotul Mustaqim Whatsapp Brodcast

Read Full Article

Riwayat berkenaan dengan kisah antara Umar bin Khaththab dengan Abu Musa Al-Asyari dan sekretarisnya ini diangkat oleh al-imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya ketika menjelaskan firman Allah ta’ala dalam QS. Al-Maidah 51,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali kalian, sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (QS. Al-Maidah: 51)

Diriwayatkan bahwasanya Umar bin Khaththab radliallahu ‘anhu pernah memerintahkan Abu Musa al-Asyari radliallahu ‘anhu untuk

Read Full Article

PENGERTIAN MASA IDDAH.

Masa iddah adalah istilah yang diambil dari bahasa Arab dari kata (العِدَّة) yang bermakna perhitungan (الإِحْصَاء). [1] Dinamakan demikian karena seorang menghitung masa suci atau bulan secara umum dalam menentukan selesainya masa iddah.

Menurut istilah para ulama, masa iddah ialah sebutan atau nama suatu masa di mana seorang wanita menanti atau menangguhkan perkawinan setelah ia ditinggalkan mati oleh suaminya atau setelah diceraikan baik dengan menunggu kelahiran bayinya, atau berakhirnya beberapa quru’, atau berakhirnya beberapa bulan yang sudah ditentukan.[2]

Ada yang menyatakan, masa iddah adalah istilah untuk masa tunggu seorang wanita untuk memastikan bahwa dia tidak hamil atau karena ta’abbud atau untuk menghilangkan rasa sedih atas sang suami.[3]

HIKMAH ‘IDDAH [4]

Para ulama memberikan keterangan tentang hikmah pensyariatan masa iddah, diantaranya:

Read Full Article

Sahabat SM, 9 Hari Pertama Dzulhijjah merupakan waktu yang ditekankan untuk berpuasa. Apabila belum sempat untuk berpuasa di sebagian besar harinya, maka jangan sampai engkau tertinggal puasa Arafah di tanggal 9 Dzulhijjah.

Puasa Arafah ini memiliki keutamaan yang besar, yaitu terampuninya dosa-dosa seorang hamba setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

Dari Abu Qatadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ

“Puasa Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim no. 1162)

Subhanallah, sungguh kita makhluk yang banyak berlumuran dosa sangat membutuhkan ampunan. Maka inilah kesempatan bagi kita untuk mendapatkan ampunan-Nya yang begitu luas.

Persiapkan dan tekadkan dari sekarang jangan sampai tertinggal

Ajak juga keluarga dan saudara kita yang lain, agar pahala kita semakin besar karena telah mengajak orang lain beramal shaleh.

*Info*: Tahun ini hari Arafah bertepatan pada hari Kamis tanggal 31 Agustus 2017.

 

Read Full Article

Sahabat SM, marilah kita melazimkan untuk membaca dzikir di waktu pagi dan petang hari, di antara dzikir yang bisa di amalkan adalah Al-Mu’awwidzaat.

Alloh ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا . وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab [33]: 41-42)

Al-Mu’awwidzaat surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas

Di antara dzikir yang dicontohkan dan dianjurkan oleh Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam untuk dibaca di pagi dan petang adalah membaca surat al-mu’awwidzaat (surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas) masing-masing sebanyak 3x.

“Barangsiapa membaca tiga surat tersebut sebanyak 3x setiap pagi dan petang hari, maka itu (tiga surat tersebut) cukup baginya dari segala sesuatu.” (Yaitu melindunginya dari segala bentuk bahaya dengan izin Allah).

HR. Abu Dawud 4/322, At-Tirmidzi 5/567 dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/182.

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast(SM)

Read Full Article

Sahabat SM, tahukah sahabat bahwa 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah merupakan hari-hari yang istimewa untuk beramal sholeh? Hari-hari yang tidak semestinya kaum muslimin menganggapnya sama seperti hari-hari biasanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام – يعني أيام العشر – قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد في سبيل الله ؟ قال ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء

“Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya, Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ? Beliau menjawab, Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu, marilah kita bersemangat untuk melaksanan berbagai ibadah atau amal sholeh yang mampu ia lakukan baik sholat, puasa, tilawah, berinfak, dan berbagai amal sholeh lainnya.

Bersemangatlah sebab amalan-amalan pada hari ini dilipatgandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya.

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast(SM)

Read Full Article

Dari Abu Hurairah radliallohu ‘anhu, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

Pada suatu ketika ada seseorang yang sedang berjalan di padang pasir tiba-tiba terdengar suara dari dalam awan, “Siramilah kebun si Fulan.” Kemudian awan itu menuju ke arah suatu tempat yang banyak batunya, lantas menuangkan airnya (menurunkan hujan).

Pada tempat yang banyak batunya tersebut ada sebuah parit yang penuh dengan air hingga parit itu pun ikut mengalirkan air. Kemudian di situ ada seorang lelaki yang berada di tengah-tengah m kebunnya sedang membagi-bagi air dengan alat pengukur tanah. Ia kemudian bertanya kepada laki-laki tersebut, “Wahai hamba Alloh, siapakah namamu?

Orang itu menjawab, “Fulan.” Nama yang sama dengan yang pernah didengarnya dari dalam awan tadi.

Kemudian si Fulan bertanya kepadanya, “Kenapa kamu menanyakan namaku?” Ia menjawab, “Sesungguhnya saya tadi mendengar suara dari dalam awan, yang kemudian menuangkan air ini. Suara itu berkata, ‘Siramilah kebun si Fulan.’ persis dengan namamu. Memangnya apa yang telah kamu perbuat?” Fulan menjawab, “Karena kamu bertanya seperti itu, maka aku jawab. Sebenarnya aku selalu memperhatikan hasil yang dikeluarkan kebun ini. Sepertiga dari hasil itu saya sedekahkan, sepertiga saya makan dengan keluargaku, dan sepertiga lagi saya persiapkan untuk bibit.” (HR. Muslim no. 2984)

Sahabat, semoga kita bisa mengambil ibrah atau pelajaran dari kisah yang dituturkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam tersebut.

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast(SM)

 

Read Full Article