Kategori: Artikel

Sahabat SM, sadarilah bahwa tiada satu amal sholeh pun yang mampu kita lakukan kecuali itu semua karena hidayah, taufik, dan pertolongan dari Allah ta’ala.

Oleh karena itu, sudah semestinya kita hadirkan rasa bahagia dan bersyukur setiap kita selesai melakukan amal shaleh. Itu tandanya bahwa Allah ta’ala mencintaimu sehingga memilihmu menjadi salah satu dari sekian hamba-Nya yang diberikan nikmat untuk bisa beramal shaleh.

Iri rasanya kepada mereka yang mudah, ringan, dan rajin dalam mengejar kebaikan. Semoga Allah ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk bisa mengikuti mereka.

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ya Allah, bantulah aku untuk selalu mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah sebaik mungkin kepada-Mu.(HR. Nasai 1303, Abu Daud 1522, dan yang lainnya)

Kami ucapkan selamat bagi Anda yang Allah mudahkan dalam beramal shaleh.

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast
Bogor, 23 Nopember 2017

Read Full Article

Sahabat SM, sesungguhnya kita semua kamu hanyalah kumpulan waktu. Seorang tabiin Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan.

يَا ابْنَ آدَمَ, إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ, إِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah (kumpulan) hari-hari, apabila berlalu satu hari maka berlalu pula bagian darimu.” (Al Hilyah: 2/148)

Sahabat, setiap hari yang kita lalui sesungguhnya telah hilang sebagian dari diri kita sampai ketika usia kita habis maka berlalulah seluruh diri kita (di dunia ini). Maka manfaatkanlah waktu dengan sebaik-baiknya dengan ketaatan-ketaatan kepada Allah ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang”. (HR. Bukhari no. 6412)

Barangsiapa yang memanfaatkan waktu luang dan nikmat sehat dalam rangka melakukan ketaatan, maka dialah yang akan berbahagia. Sebaliknya, barangsiapa memanfaatkan keduanya dalam maksiat dan kesia-siaan, dialah yang betul-betul tertipu. Dan ingatlah sesudah waktu luang akan datang waktu yang penuh kesibukan. Begitu pula sesudah sehat akan datang kondisi sakit yang tidak menyenangkan.

Semoga Allah ta’ala memberikan keberkahan kepada kita dalam waktu-waktu kita, dan memberikan taufiq untuk menjalankan berbagai kebaikan di bulan yang mulia ini.

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast
Bogor, 17 Oktober 2016

Read Full Article

Sahabat SM, dalam sebuah riwayat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan bagaimana kisah orang yang terakhir masuk surga.

Ibnu Mas’ud berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنِّى لأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا وَآخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولاً الْجَنَّةَ رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ حَبْوًا فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلأَى. فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ – قَالَ – فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلأَى فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا أَوْ إِنَّ لَكَ عَشَرَةَ أَمْثَالِ الدُّنْيَا – قَالَ – فَيَقُولُ أَتَسْخَرُ بِى – أَوْ أَتَضْحَكُ بِى – وَأَنْتَ الْمَلِكُ » قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ. قَالَ فَكَانَ يُقَالُ ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً

“Sesungguhnya aku tahu siapa orang yang paling terakhir dikeluarkan dari neraka dan paling terakhir masuk surga. Yaitu seorang laki-laki yang keluar dari neraka dengan merangkak.

Kemudian Allah ta’ala berfirman kepadanya, “Pergilah engkau, masuklah engkau ke surga.” Ia pun mendatangi surga, tetapi ia membayangkan bahwa surga itu telah penuh. Ia kembali dan berkata, “Wahai Rabbku, aku mendatangi surga tetapi sepertinya telah penuh.”

Allah ta’ala berfirman kepadanya, “Pergilah engkau dan masuklah surga.” Ia pun mendatangi surga, tetapi ia masih membayangkan bahwa surga itu telah penuh. Kemudian ia kembali dan berkata, “Wahai Rabbku, aku mendatangi surga tetapi sepertinya telah penuh.”

Allah ta’ala berfirman kepadanya, “Pergilah engkau dan masuklah surga, karena untukmu surga seperti dunia dan sepuluh kali lipat darinya.”

Orang tersebut berkata, “Apakah Engkau memperolok-olokku atau menertawakanku, sedangkan Engkau adalah Raja Diraja?”

Ibnu Mas’ud berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa sampai tampak gigi geraham beliau. Kemudian beliau bersabda, “Itulah penghuni surga yang paling rendah derajatnya.” (HR. Bukhari no. 6571, 7511 dan Muslim no. 186)

Masya Allah… masih adakah orang-orang yang enggan menempuh jalan-jalan menuju surga? Sungguh besar kenikmatan yang ada dalam surga. Semoga Allah ta’ala memasukkan kita termasuk golongan penghuni surga. Aamiin.

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast

Read Full Article

Sahabat SM, tentu setiap orang sangat terikat dengan rumahnya. Ia begitu senang dan tenteram ketika berada di rumahnya. Ketahuilah sahabat bahwa ada rumah yang sejati bagi orang-orang yang bertakwa.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اَلْمَسْجِدُ بَيْتُ كُلِّ تَقِيٍّ وَتَكَفَّلَ اللهُ لِمَنْ كَانَ الْمَسْجِدُ بَيْتَهُ بِالرُّوْحِ وَالرَّحْمَةِ وَالْجَوَازِ عَلَى الصِّرَاطِ اِلَى رِضْوَانِ اللهِ اِلَى الْجَنَّةِ

“Masjid itu adalah rumah setiap orang yang bertakwa, Allah memberi jaminan kepada orang yang menganggap masjid sebagai rumahnya, bahwa ia akan diberi ketenangan dan rahmat serta kemampuan untuk melintasi shiratul mustaqim menuju keridhaan Allah, yakni surga.” (HR. Thabrani)

Sudah kita terpaut dan merasa tenang berada di dalam masjid?

Sudahkah kita rutin ke “rumah yang sejati” dan memakmurkannya dengan shalat dan ibadah?

Semoga Allah ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa.

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast

Read Full Article

Menderita Karena Hasad? Segera Obati…!

Sahabat SM, sebagaimana pada pembahasan sebelumnya bahwa sifat hasad merupakan penyakit. Orang yang terjangkiti penyakit hasad ini, hidupnya akan menderita. Oleh karena itu, siapa saja yang dalam dirinya ada sifat ini maka hendaknya segera ia obati.

Di antara obat untuk menghilangkan sifat hasad ini adalah hendaknya seseorang berbuat baik kepada orang yang kita hasad terhadapnya. Semisal dengan memberikannya bantuan, memberi hadiah, mendoakan kebaikan untuknya, mengungkapkan kebaikan-kebaikannya dan lain sebagainya.

Hal ini diisyaratkan Allah ta’ala dalam firman-Nya,

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushshilat: 34)

Mungkin pada awalnya berat dan kita harus memaksakan diri untuk berbuat hal-hal baik tersebut. Tapi lambat laun kita akan terbiasa melakukannya dan insya Allah sifat hasad akan hilang dari dirimu.

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast

 

Read Full Article

Matahari dan Cahayanya di Pagi Hari.

Allah ta’ala berfirman,

وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا

“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari.” (QS. Asy-Syams: 1)

Sahabat SM, pagi ini jutaan manusia mematikan lampu rumah karena tercukupi oleh sinar matahari. Triliunan rupiah terhematkan hari ini. Subhanallah….

Ribuan pohon membesarkan buahnya dan mematangkannya untuk manusia dengan sinar matahari. Subhanallah….

Bumi kembali hangat setelah dingin mencekam dan kembali terang setelah gelap gulita karena sinar matahari. Subhanalloh…

Di bawah sinar matahari, jutaan manusia keluar rumah memulai aktifitas mereka. *Tapi… hanya sedikit dari mereka yang bertasbih memuji Allah atas nimat yang besar ini.*

Semoga Allah mengampuni kita. Aamiin.

(Ust. Sholahuddin, Lc., MA.Hum.)

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast

Read Full Article

Hati-hati Hasad Membuatmu Menderita.

Sahabat SM, hasad adalah sebuah penyakit yang menyerang hati dan meracuninya. Ia menjadi sebab rusak dan hancurnya hati. Siapa yang terserang penyakit ini, hatinya senantiasa gelisah dan dada pun menjadi sesak.

Setiap kali saudaranya mendapatkan kenikmatan, dadanya menjadi sesak dan sempit. Ia senantiasa mengangan-angankan musnahnya kenikmatan tersebut dari tangan saudaranya.

Sehingga orang yang terjangkit penyakit ini hidupnya akan menderita. Ia terpenjara dengan penjara yang ia buat sendiri.

Oleh karena itu, jika ingin hidupmu bahagia maka jauhi dan lindungi diri Anda dari penyakit hasad ini.

Allah ta’ala berfirman,

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ

“Dan janganlah kalian iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kalian lebih banyak dari sebahagian yang lain.” (QS. An-Nisa’: 32)

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast

Read Full Article

Sahabat SM, ketahuilah jika Allah membenci seseorang, maka Jibril dan semua penduduk langit pun akan membencinya.

Tak hanya sampai disitu. Bahkan kemudian penduduk bumi pun akan ikut serta membencinya.

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَيَقُولُ إِنِّي أُبْغِضُ فُلَانًا فَأَبْغِضْهُ قَالَ فَيُبْغِضُهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ فُلَانًا فَأَبْغِضُوهُ قَالَ فَيُبْغِضُونَهُ ثُمَّ تُوضَعُ لَهُ الْبَغْضَاءُ فِي الْأَرْضِ))

“Jika Allah membenci seorang hamba, maka Allah akan memanggil Jibril. Kemudian Allah berfirman, “Aku membenci si fulan, maka bencilah dia’. Maka Jibril pun membencinya. Kemudian Jibril mengumumkan kepada semua penduduk langit bahwa Allah membenci si fulan, maka mereka semua membencinya. Kemudian kebencian itupun diletakan pada penduduk bumi.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, janganlah engkau mengundang kebencian Allah ta’ala atasmu. Jangan terlebih hanya sekedar untuk mencari simpati atau keridhoan manusia semata.

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast

Read Full Article

Sahabat SM, para ulama salaf (terdahulu) begitu antusias dalam menjalankan serta menjaga shalat berjama’ah. Dan mereka akan bersedih ketika dirinya tertinggal shalat berjama’ah.

Dikisahkan oleh syaikh Asy-Sya’roni Asy-Syafii rahimahullah, dahulu orang-orang salaf menganggap bahwa meninggalkan shalat berjama’ah sebagai musibah.

Dikisahkan pula, dahulu ada seseorang yang sedang sibuk mengurus kebun kurmanya. Kemudian dia pulang ke rumahnya (karena waktu shalat telah tiba). Dan ternyata dia menjumpai orang-orang sudah melaksanakan shalat ashar berjama’ah. Berkatalah dia, “Saya tertinggal dari shalat berjama’ah. Saksikanlah sesungguhnya kebun kurmaku akan aku sedekahkan untuk orang-orang miskin.”

Ubaidillah bin Umar Al-Qowariri rahimahullah pernah tertinggal dari shalat berjama’ah karena sibuk menemui tamu. Waktu itu (ketika selesai menemui tamu), beliau keluar rumah untuk shalat berjama’ah di masjid. Ternyata di semua masjid sudah dilakukan shalat berjama’ah bahkan pintunya sudah ditutup. Akhirnya beliau pulang dan berkata, “Aku tahu ada hadis yang menyebutkan bahwa shalat berjama’ah pahalanya 27 derajat dibandingkan shalat sendiri.”

Akhirnya beliau shalat isya sendirian 27 kali. Kemudian beliau tidur dan ternyata bermimpi sedang menunggangi kuda dan di depannya ada rombongan kaum yang juga menunggangi kuda. Dalam perjalanannya beliau tidak bisa mendahului rombongan tersebut. Tiba-tiba salah seorang dari mereka menengok dan berkata, “Kudamu kelelahan, tidak bisa mengejar kami.” Beliau menjawab, “Tidak wahai saudaraku”. Orang tadi berkata lagi, “Karena kami shalat berjama’ah sedangkan kamu shalat sendirian”. Akhirnya beliau terbangun dari tidurnya dalam keadaan sangat bersedih. (Diringkas Dari Kitab I’anatuth)

Kiriman dari Ust. Abul Fata Miftah, Lc

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast

Read Full Article

“Jika dunia kita sudah menjulang ke atas, maka hujamkanlah iman ke dalam hati. Dengannya kita akan selamat dan kokoh.” (Ust. Sholahuddin)

Sahabat SM, sesungguhnya memantapkan iman dalam hati dan menguatkan takwa merupakan kewajiban yang harus kita lakukan dalam setiap keadaan, baik dunia kita sudah tinggi maupaun ketika masih rendah sekalipun.

Akan tetapi berapa banyak orang bisa lebih bersabar ketika dia dalam keadaan susah dunianya, sehingga ia bisa lebih dekat dengan Rabb-Nya. Sebaliknya berapa banyak orang yang lapang dunianya menjadi terlalaikan hingga kemudian jauh dari Rabb-Nya.

Dunia Kita Bisa Menjadi Kebinasaan Kita

Inilah yang ditakutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلَكِنِّى أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan menimpa kalian. Namun, aku takut bahwa dunia akan dibentangkan untuk kalian, sebagaimana dunia telah dibentangkan untuk umat sebelum kalian. Akhirnya, kalian berlomba-lomba mendapatkannya, sebagaimana yang dilakukan orang-orang terdahulu. Selanjutnya, dunia membinasakan kalian, sebagaimana dahulu dunia telah membinasakan umat sebelum kalian.” (HR. Bukhari, no. 4015)

Materi Shirotul Mustaqim Whatsapp Broadcast

Read Full Article